Categories
Science & Technology Social Sciences Treasure

Generasi Mesin

Menurutku generasi mesin sangat cocok untuk panggilan generasi kita. Karena saat ini sedang marak-maraknya kecerdasan buatan seperti AI atau artifical intelligence. Dengan kecerdasan buatan ini hidup menjadi lebih otomatis dan praktis. Sekarang pun pabrik-pabrik sudah mulai menggunakan robot AI sebagai ‘karyawan’-nya.

Apa kau tahu film Doraemon season dua? Di film itu seluruh kota di Jepang didominasi oleh robot dan mesin-mesin canggih. Nah, kurang lebih keadaan dunia di masa depan pun akan seperti itu. Meski begitu, kehadiran AI bagi kehidupan manusia pasti punya dampak positif sekaligus negatif. Dampak positifnya, bisa membuat hidup kita menjadi lebih praktis, cepat, menambah banyak ilmu pengetahuan, dan membuat hidup penuh dengan keajaiban-keajaiban yang diciptakan oleh otak manusia yang disalurkan pada alat atau mesin.

Sedangkan dampak negatif dari AI adalah membuat kita menjadi mager atau malas gerak untuk melakukan sesuatu, karena berpikir sudah ada robot yang menggantikan. Kemudian buruh pabrik pun banyak yang akan jadi pengangguran. Penipuan di media sosial pun akan semakin merajalela, karena dengan bantuan AI, para hacker bisa membuat tipuan semulus mungkin. Mungkin suatu saat nanti, robot AI bisa-bisa akan menjadi bumerang bagi kita.

Mungkin suatu saat nanti kita bahkan tidak akan bisa membedakan mana robot dan mana manusia. Karena dengan semakin majunya teknologi, penciptaan robot AI akan dirancang semulus mungkin agar lebih menyerupai manusia. Jadi, bagaimana dong cara membedakannya?

Sesuatu yang dapat membedakan antara manusia dengan robot adalah kesadaran. Kesadaran adalah kondisi saat seorang individu memiliki kendali penuh terhadap stimulus internal maupun stimulus eksternal. Assael menyebut stimulus internal merupakan respon emosi yang dirasakan oleh konsumen dengan dimensi pleasure atau kesenangan dan arousal atau gairah (2009). Sedangkan Laura A. King berkata bahwa stimulus eksternal adalah proses otak dalam mengatur dan menginterpretasi atau menafsirkan informasi sensoris dan memberikan makna (2012).

Robot tidak mungkin mempunyai kesadaran yang sama seperti manusia. Namun robot bisa mempunyai kesadaran buatan. Kesadaran buatan pada robot sudah disistemasikan ke dalam tubuh robot oleh si pembuat robot. Contohnya ketika sebuah robot diperlihatkan pada suatu kejadian yang lucu. Maka si robot secara otomatis harus tertawa. Nah, asal muasal robot bisa merespon dengan tertawa bukanlah karena adanya kesadaran alami, melainkan karena adanya kesadaran buatan yang telah dimasukkan ke dalam data pada tubuh robot. Atau sederhananya, kesadaran itu sudah di-program.

Aku pernah membaca satu berita. Generasi mesin lambat laun akan menggantikan posisi designer . Aku sedih ketika membaca berita ini, dan jujur merasa sangat terganggu. Karena hal itu berhubungan dengan cita-citaku, yakni menjadi fashion designer. Aku membayangkan, mungkin suatu saat nanti dunia akan lebih memilih reinkarnasi otak manusia (mesin ciptaannya) daripada manusia itu sendiri.

Aku menerawang mungkin tiga puluh tahun ke depan akan terjadi pemusnahan umat manusia secara besar-besaran. Sehingga hanya orang-orang terpilih saja yang akan hidup di dunia ini. Sepeti orang-orang kaya, ilmuan pembuat robot, dan orang-orang berpengaruh lainnya. Dan aku pun pernah membayangkan bahwa jangan-jangan kalau produksi robot AI semakin diperbanyak, maka robot-robot itulah yang akan menjadi pasukan perang di medan tempur. Seram juga, ya?

Ketika manusia mulai bermalas-malasan karena merasa sudah hidup enak berkat bantuan mesin, dan mesin yang menjadi rajin dan semakin pintar, maka saat itulah keajaiban terjadi. Tiba-tiba robot-robot mempunyai kesadaran, bukan sekadar kesadaran buatan lagi. Melainkan kesadaran yang sama dengan manusia yang tidak ingin hidupnya diatur-atur seperti mesin. Kalau sudah begitu, bisa jadi robot-robot akan menyerang karena sudah muak dengan perintah majikannya.

Dunia mesin membuat para ilmuan semakin menggila. Buktinya, negeri Tiongkok sudah berani menciptakan matahari buatan. Bahkan ada satu perusahaan makanan yang sudah menyiapkan penyimpanan makanan yang terbuat dari besi yang sangat kuat. Katanya agar bisa terselamatkan jikalau hari kiamat itu memang ada. Pokoknya bermacam-macam manusia yang ketakutan akan harta bendanya hilang sedang menyiapkan tempat terkuat agar terlindung dari hari kiamat.

Dari semua kemungkinan-kemungkinan yang ada, maka cara paling mudah untuk mengurangi dampak negatif dari peristiwa ini adalah jangan malas. Karena jika kita menjadi orang yang rajin maka pengguna mesin pun akan semakin berkurang populasinya. Jika kita saking rajinnya melakukan sesuatu secara mandiri, maka populasi robot pun akan semakin berkurang. Karena kita tidak terlalu membutuhkan bantuan mesin.

Kata rajin mengingatkanku pada film Dr. Stone. Di dalam film tersebut, ada satu tokoh karakter yang bernama Yuzuriha. Yuzuriha adalah seorang siswi SMA yang sangat tekun dalam mengerjakan sesuatu. Maka ketika dunia berubah menjadi zaman batu, sosok Yuzuriha menjadi sangat dibutuhkan untuk menyukseskan suatu proyek yang sedang dibangun oleh Kerajaan Sains. Yuzuriha bisa dibilang sangat gesit ketika mengerjakan sesuatu. Bahkan ia bisa mengerjakan suatu pekerjaan yang membutuhkan waktu lama hanya dalam satu malam. Hebat, kan?

Jadi, jika kita tidak ingin populasi robot merajalela janganlah malas. Tapi jangan pula rajin untuk membuat robot. Karena jika begitu sama saja dengan bohong. Jangan sampai alat ciptaan kita sendiri menjadi senjata makan tuan. Begitu tuan-tuan dan nyonya-nyonya…

Generasi mesin akan membuat hidup kita menjadi otomatis. Segalanya serba express. Mungkin di masa depan nanti setiap harinya kita akan berjumpa dengan yang namanya mesin. Di sini mesin, di sana mesin, di mana-mana ada mesin. Jangan-jangan pintu Doraemon pun akan menjadi nyata. Tapi asyik juga sepertinya kalau pintu Doraemon memang ada. Ha-ha-ha.

Nama Saniya Kautsar | Kelas XI | Penyunting Ridwan Malik

Leave a Reply