Categories
Book Reviews Reading novels Treasure

Berpikir Negatif

Kebalikan dari positive thinking yaitu negative thinking. Berpikir positif itu penting, tapi berpikir negatif juga penting. Lho, kok, berpikir negatif itu penting, sih? Bukannya banyak orang menyuruh kita untuk berpikir positif setiap saat? Jadi, bagaimana konsepnya?

Dalam buku Filosofi Teras karya Henry Manampiring. Dibahas tentang berpikir negatif. Katanya, kita harus membiasakan setiap bangun tidur untuk memikirkan semua kemungkinan buruk yang akan terjadi pada kita. Kenapa? Karena yang namanya nasib buruk itu, kan tidak dapat kita prediksi. Jadi, berpikir negatif saat sebelum suatu peristiwa terjadi dapat membantu mengurangi respon buruk kita terhadap musibah tersebut. Misalnya, kamu berharap bahwa hari ini kamu akan mendapatkan penghasilan banyak dari lukisanmu. Ee… tahunya malah tak laku. Maka respon kita terhadap peristiwa tersebut cenderung akan buruk, kan? Nah, dengan menerapkan asumsi negatif sebelum kejadian, dapat mengurangi dampak stres dan rasa cemas yang akan kita alami.

Berpikir negatif juga dapat kita terapkan ketika sedang mengikuti sebuah perlombaan. Dalam buku ini disebutkan juga bahwa berpikir negatif ketika sedang mengikuti perlombaan akan mengurangi dampak kecemasan kita.

Aku mempunyai banyak sekali pengalaman pahit ketika mengikuti bermacam-macam perlombaan. Aku belum bisa menemukan bagaimanakah cara yang ampuh agar bisa meraih juara. Tapi aku tetap bangga sih kepada diriku sendiri. Karena aku bisa menemukan berbagai cara untuk ‘menggagalkan’ suatu perlombaan. Tapi hal ini sudah menjadi habbit-ku kali, yah. Bahwa setiap mengikuti perlombaan aku selalu berpikir, “Aah… paling juga bakal kalah lagi.” Dan ternyata memang kalah. Walaupun begitu, aku tidak ambil ribet. Itu karena aku sadar bahwa aku mempunyai kemampuan terbatas untuk menang.

Dijelaskan juga bahwa berpikir negatif ketika sedang melaksanakan kencan pertama ternyata juga sangat berguna bagi kaum kasmaran. Jadi ketika kamu melakukan kencan pertama tak usah gugup, tak usah dag-dig-dug-ser. Kamu cukup berasumsi, “Pasti aku gak bakal jadi pacarnya. Kalau dia gak mau jadi pacarku, kemungkinan besar ini gara-gara ketidakrapihanku dalam berpakaian. Dari awal memang sudah kuduga, sih.”

Nah, dengan pemikiran seperti itu, selanjutnya kamu pasti akan berpikir begini, “ Biarlah, berarti aku bisa mencoba memperbaiki penampilanku, dan aku akan memutuskan untuk kencan dengan gadis lain. Toh, dia itu bukan satu-satunya, kok.”

Sudah, hidup itu tak perlu diambil ribet. Sebenarnya hidup itu tak sulit. Ya, cuma pikiran kita saja yang dibawa sulit. Seperti pikiran pemuda tadi, misalnya. Hal itu lebih baik daripada harus marah-marah kepada orang yang menolak kita. Hal itu patut untuk diapresiasi. Mending terima nasib saja, seperti para stoikis.

Terkadang orang-orang zaman sekarang, jikalau berhadapan dengan kata ‘tidak’ bapernya minta ampun. Pantas saja ketika pelamar kerja ditolak lamarannya, atau pelamar calon istri ditolak lamarannya, dan lain sebagainya, mereka rata-rata baper duluan sehingga nantinya mereka enggan untuk melakukan apa pun setelah terjadi penolakan. Bukannya memperbaiki diri pada yang lebih baik, tapi justru malah diam membatu di tengah jalan.

Menyangkut kata tidak, generasi zaman sekarang seharusnya dilatih untuk mengatakan tidak. Maksudku, bagaimana, ya… Berkata tidak itu penting untuk suatu keberatan yang tidak ingin kita lakukan. Begitu, kan? Berkata tidak saat kondisi kita sedang tidak memungkinkan untuk menolong, atau menuruti perkataan serta tindakan yang salah akan menyelamatkan diri sendiri.

Semisal ada teman kita yang minta bantuan pada kita, tapi kita sedang tidak bisa membantu karena mungkin ada sesuatu yang lebih penting dan tidak bisa ditunda-tunda. Maka ucapkanlah tidak pada teman kita itu. Tak usah khawatir jika menolak nantinya pertemanan kita akan rusak. Karena pertemanan yang sejati itu, meskipun kita menolak untuk membantunya, pertemanan kita akan tetap utuh. Tapi kalau pertemanan itu rusak hanya karena kita menolak untuk membantu, berarti harus dipertanyakan hubungan pertemanannya.

Hmmm… Perihal berpikir negatif ini. Apakah hal itu juga perlu dipraktikkan terhadap Sang Pencipta? Tapi aku pikir-pikir perlu juga, sih. Perlu di sini dalam artian untuk introspeksi diri, bukan karena yang lain-lain.

Kita ambil contoh seorang pemuda yang kehidupannya seret rezeki dan menyebabkan dirinya pengangguran. Dia sebenarnya bisa berpikir begini, “Rezekiku tidak lancar, dan aku pun pengangguran. Allah pasti tidak mau melancarkan rezeki kepada seorang pemuda yang jarang salat Jumat. Sudah kuduga, ini memang salahku, ini karena kemalasanku”.

Jadi, berpikir negatif itu tidak perlu dihadapi secara berlebihan, ya? Terutama bagi kita sebagai orang awam. Jangan terlalu dipandang buruk juga. Karena berpikir negatif juga penting. Bayangkan saja jika di dunia ini semua orang didominasi dengan para manusia yang positive thinking. Mungkin nantinya semua orang akan merasa kepedean.

Jika semua orang selalu berpikir positif setiap saat, dan sangat anti untuk berpikir negatif, maka hal ini akan menimbulkan bencana dan kepercayaan diri berlebih. Sedangkan perilaku berlebihan itu tidak baik. Bayangkan saja jika si tukang kencan selalu berpikir positif! Kencan itu, kan adalah suatu negosiasi yang harus dipertimbangkan. Misalkan dia berpikir  bahwa setiap orang yang menolaknya itu adalah karena dia terlalu tampan untuk dikencani. Jadi dia mengira bahwa si perempuan akan merasa insecure ketika jalan bersamanya. Apakah itu tidak terlalu kepedean? Bukan hanya itu saja. Si lelaki itu pun nantinya tidak akan intropeksi diri , bahwa sebenarnya cara berpakaiannyalah yang tidak rapi, bukan karena ia terlalu tampan.

Satu hal yang harus diperhatikan dalam berpikir negatif. Ketika sedang berada di situasi lemah karena sakit. Justru di sinilah berpikir negatif sebisa mungkin harus dinonaktifkan, karena berpikir positif menjadi sangat dibutuhkan bagi kesembuhan kita. Aku pun mengalami itu. Tapi tak tahu kenapa, ya? Ketika aku mencoba berpikir positif saat sakit sepenuhnya akan menyerang, sakitnya malah tak jadi. Seriusan! Tapi ketika aku menerapkan konsep negative thingking saat sakit sepenuhnya akan menyerang, aku malah sakit beneran, dan itu sangat merepotkan orang lain yang mengurusku. Terutama ibuku yang selalu menjadi wakil keluarga ketika aku sakit. Duh… memalukan sekali diriku.

Dikarenakan penyebab sakit itu kebanyakan timbul berdasarkan pada pikiran, dan bukan sepenuhnya karena kondisi tubuh, kupikir penerapan negative thinking pada orang yang sedang sakit itu tidak efektif, deh. Karena ketika kita sedang merasakan sakit perut, kita tidak bisa asal menyalahkan sepenuhnya pada si perut. Tapi pikiran kita juga harus dipertanyakan. Karena sakit perut itu bukan semata karena ditimbulkan oleh organ tubuh ataupun makanan yang dicerna, sebenarnya itu hanya faktor kecilnya saja. Faktor besarnya terdapat dalam isi pikiran kita.

Berpikir negatif itu, kan sama saja dengan berpikir buruk. Di sini perlu digarisbawahi pada kata buruk. Tidak semua hal yang buruk itu benar-benar buruk. Maksudku, bisa saja dari hal yang buruk itu dapat memunculkan pembelajaran untuk perbaikan atau sebagai peringatan. Misalkan, dalam cara berpikir buruk yang akan menumbuhkan kesadaran kita untuk menuju perbaikan diri. Dalam konteks pengalaman juga seperti itu, bukan? Di mana-mana pengalaman buruk pasti menjadi pembelajaran. Baik itu pengalaman dari orang lain maupun dari diri sendiri.

Berpikir positif atau berpikir negatif, kedua-duanya akan menjadi tidak baik ketika digunakan secara berlebihan. Yang positif akan tercoreng nama baiknya, dan yang negatif akan semakin buruk reputasinya. Jadi, berlebihan itu adalah musuh bagi keduanya. Dan keserakahan adalah rekan kerja dari berlebihan. Jadi, jika ingin keseimbanganmu dalam berpikir tidak goyah, kamu harus siap melawan musuh yang di atas tadi, yaitu berlebihan.

Jikalau berpikir positif malah membuatmu lelah dengan keadaan, maka gunakanlah pilihan yang satunya, berpikir negatif dengan tujuan agar menguatkan mentalmu dalam menghadapi keadaan. Tapi ingat! Ketika dalam keadaan sakit, kamu sebaiknya memikirkan hal yang positif. Karena perihal sakit itu bukan berada di bawah kendali kita.

Seperti yang dikatakan dalam buku Filosofi Teras ini:

“Kesehatan itu tidak berada di bawah kendali kita. Yang berada di bawah kendali kita itu: pikiran, opini, persepsi, dan tindakan.”

Soalnya akan percuma jika kita berpikir negatif terhadap sesuatu yang bukan di bawah kendali kita. Karena bukannya perbaikan yang akan muncul, justru persepsi buruk kita kepada yang memberi penyakitlah yang akan timbul. Hal itu akan merepotkan nantinya. Berbeda halnya ketika kita berpikir negatif terhadap sesuatu yang berada di bawah kendali kita seperti pikiran, opini, persepsi, dan tindakan, maka akan muncul perbaikan dari pikiran, opini, persepsi, dan tindakan kita.

Nama Saniya Kautsar | Judul Filosofi Teras | Penulis Henry Manampiring | Penyunting Ridwan Malik

Leave a Reply